Tugas Makalah Pengetahuan Bahan
SEJARAH PERKEMBANGAN KERAMIK
Disusun Oleh:
Adela Ariadi
(1405106010005)
PROGRAM S1 TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH
KUALA
DARUSSALAM BANDA ACEH
2016
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR.......................................................................................i
DAFTAR
ISI.....................................................................................................ii
BAB I. PENDAHULUAN................................................................................1
1.1.Latar
Belakang.....................................................................................1
1.2.Rumusan
Masalah.................................................................................2
1.3.Tujuan...................................................................................................2
BAB II.
PEMBAHASAN..................................................................................3
BAB III. PENUTUP...........................................................................................8
3.1.Kesimpulan..........................................................................................8
3.2.Saran....................................................................................................8
SUMBER ............................................................................................................9
KATA
PENGANTAR
Segala
puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan
rahmat, hidayah, kekuatan dan kesehatan kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan makalah yang
berjudul “Sejarah Perkembangan
Keramik”. Makalah ini merupakan pelajaran yang sangat berhubungan dengan jurusan Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala
Darussalam Banda Aceh. Selanjutnya shalawat dan salam kepada junjungan alam
Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa syiar Islam di atas muka bumi ini.
Dalam
penyelesaian makalah ini, penulis telah berusaha semaksimal mungkin sesuai
dengan kemampuan dan pengalaman yang penulis miliki. Namun penulis menyadari
bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dalam isi maupun
teknis penulisannya. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis
mengharapkan adanya pandangan pikiran, berupa kritik dan saran dari berbagai
pihak demi kesempurnaan penulisan ini.
Banda Aceh, 08 Mei 2016
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Keramik
telah di temukan sejak jaman dahulu,terbukti dengan ditemukan benda-benda
sejarah yang terbuat dari tanah liat seperti guci-guci,wadah,perlengkapan
tempat makanan,tempat air minum dan lain sebagainya.Keramik merupakan material
organik non logam yang mengandung unsur logam dan non logam yang terutama
berikatan ionik dan kovalen.mateial dari keramik tersebut mengandung tingkat
perbadaan dalam ikatan kimia nya.
Keramik
pada proses pembuatannya memiliki beberapa tahap proses agar berhasil.proses
pembuatannya memerlukan waktu yang cukup lama. Bahan pembuatan keramik terdiri
dari tanah liat. Dari tanah liat tersebut lalu dapat diolah seperti menjadi
batu bata,celengan,lantai yang terbuat dari keramik,piring,cobekan dan
lain-lain.
Pada
umumnya material keramik memiliki tekstur keras dan rapuh,dengan tingkat kekerasan
yang rendah. Keramik adalah bahan isolator yang dan panas yang baik karena
tidak ada elektron yang terkonduksi.
Material keramik memiliki titik leleh yang tinggi dan kestabilan kimia terhadap
lingkungan yang tinggi karena tingkat kestabilan.
1.2.Rumusan Masalah
Adapun rumusan
masalahyang penulis rumuskan adalah:
A. Apa
itu keramik?
B. Bagaimana sejarah perkembangan keramik?
C. Apa-apa
saja jenis keramik?
D. Apa
saja sifat keramik?
E. Bagaimana
proses pembuatan keramik?
1.3.Tujuan
Adapun tujuan dalam penyusun makalah
ini, penyusun ingin memberi informasi mengenai sejarah perkembangan keramik dan proses pembuatanya untuk menambah
wawasan dalam matakuliah pengetahuan bahan.
BAB II
PEMBAHASAN
Keramik merupakan campuran padatan yang terdiri dari sebuah unsur logam
dan nonlogam atau unsur logam dan nonlogam padat, gabungan dari unsur nonlogam
dan unsur nonlogam padat, atau gabungan dari dua buah unsur nonlogam padat
yang dibentuk dengan perlakuan panas (Barsoum, 1997). Dalam definisi yang lebih khusus lagi, keramik didefinisikan
sebagai bahan inorganik yang merupakan
pencampuran senyawa logam dan nonlogam dengan
memberi perlakuan seperti pemanasan, pemberian tekanan sehingga memiliki
sifat kuat, keras dan memiliki titik
cair yang tinggi serta lambat terhadap proses kimia (Yet Ming Chiang et al, 1997).
Keramik pada awalnya berasal dari bahasa Yunani keramikos yang
artinya suatu bentuk dari tanah liat yang telah mengalami proses
pembakaran. Kamus dan ensiklopedi tahun 1950-an mendefinisikan keramik
sebagai suatu hasil seni dan teknologi untuk menghasilkan barang dari
tanah liat yang dibakar, seperti gerabah, genteng, porselin, dan sebagainya.
Tetapi saat ini tidak semua keramik berasal dari tanah liat. Definisi
pengertian keramik terbaru mencakup semua bahan bukan logam dan anorganik
yang berbentuk padat. Umumnya senyawa keramik lebih stabil dalam
lingkungan termal dan kimia dibandingkan elemennya. Bahan baku keramik yang
umum dipakai adalah felspard, ball clay, kwarsa, kaolin, dan air. Sifat
keramik sangat ditentukan oleh struktur kristal, komposisi kimia dan
mineral bawaannya. Oleh karena itu sifat keramik juga tergantung pada
lingkungan geologi dimana bahan diperoleh. Secara umum strukturnya sangat rumit
dengan sedikit elektron-elektron bebas. Kurangnya beberapa elektron bebas
keramik membuat sebagian besar bahan keramik secara kelistrikan bukan merupakan
konduktor dan juga menjadi konduktor panas yang jelek. Di samping itu keramik
mempunyai sifat rapuh, keras, dan kaku. Keramik secara umum mempunyai kekuatan
tekan lebih baik dibanding kekuatan tariknya.
Kamus dan ensiklopedia pada tahun 1950-an mendefenisikan keramik
sebagai suatu hasil seni dan teknologi untuk menghasilkan barang dari tanah
liat yang dibakar, seperti gerabah, genteng, porselin, dan sebagainya. Seiring
perkembangan dan kemajuan teknologi defenisi keramik berkembang tidak hanya
pada penghasil barang dari tanah liat namun berkembang mencakup semua bahan
bukan logam dan anorganik yang berbentuk padat.
SEJARAH PERKEMBANGAN KERAMIK DI INDONESIA
Kepandaian
membuat keramik di Indonesia sebenarnya sudah tua umurnya, sebagaimana halnya
sejarah keramik diberbagai belahan Dunia, seperti China, Jepang, Mesir, Yunani,
Korea, Thailand, Peru, Philipina, Vietnam dan lain sebagainya. Di mana
ketrampilan membuat keramik tersebut muncul dan tumbuh secara alami, ada yang
tumbuh dalam waktu yang bersamaan tanpa adanya pengaruh hubungan kebudayaan
satu dengan lainnya. Kepandaian membuat keramik dapat dikatakan setua manusia
mengenal api dan dapat memanfaatkannya.
Penemuan teknik membuat keramik atau pengetahuan mengenai sifat tanah
liat yang mengeras setelah dibakar, diperoleh secara tidak sengaja oleh orang
primitif pada zaman Pra-sejarah. Ralph
Mayer dalam bukunya A Dictionary of Art Term and Techniques, menyatakan
bahwa kebanyakan seni primitif dibuat dari kayu, batu dan tanah liat, yang
diciptakan untuk beberapa tujuan relegi atau tujuan yang praktis (Mayer, 1969).
Awal mulanya keramik dibuat cenderung sebagai “wadah”. Inspirasi
pembuatan wadah tersebut berasal dari pemanfaatan buah-buahan berkulit
tebal seperti labu, kelapa dan sebagainya, yang isinya dikeluarkan. Juga
dari ruas-ruas pohon bambu, daun-daunan berukuran besar seperti daun pisang
daun talas dan lainnya. Cekungan bekas telapak kaki dan batu pada tanah basah
yang digenangi air hujan juga memberi inspirasi, dimana air yang tergenang
tersebut dapat bertahan lama bahkan bisa berhari-hari lamanya. Berdasarkan
kenyataan tersebut, suatu ketika orang memakai keranjang bambu yang dilapisi
tanah liat sebagai tempat atau wadah cairan (liquid) dan wadah semacam ini tentu tidak bertahan lama. Secara
tidak sengaja keranjang tersebut dibuang keperapian dengan maksud untuk
dimusnahkan. Namun yang terjadi keranjangnya musnah, sedang tanah pelapis masih
tersisa dan ditemukan mengeras dengan meninggalkan bekas anyaman keranjang.
Dari pengalaman-pengalaman itulah, orang mulai dengan sengaja membentuk tanah
liat secara utuh sebagai wadah dan untuk keperluan religi lainnya.
Dengan diketemukan tanah yang mengeras ini, secara tidak sengaja
mereka telah menemukan keramik dengan unsur dekorasinya sekaligus. Lebih
lanjut hiasan diterapkan secara sengaja, yaitu menggunakan kulit kerang, kulit
kayu, permukaan batu, tali, anyaman, serat tumbuh-tumbuhan, kain atau
benda-benda keras lain yang bertekstur / bermotif, dengan cara mengecapkannya
pada permukaan benda dalam keadaan masih basah (lembab) sebelum dibakar. G. Nelson, dalam bukunya yang berjudul
Ceramics menulis bahwa suatu kenyataan yang ada pada benda-benda
tembikar atau keramik masa Neolitik, tekstur yang banyak ditemukan adalah bekas
anyaman (Nelson, 1960). Dengan demikian , jelas bahwa keramik lahir pada
mulanya sebagai benda praktis dan sekaligus sebagai benda estetis.
Di Indonesia, keramik jenis gerabah dikenal sejak zaman
Pra-sejarah atau zaman Neolitikum,
yaitu pada tahun 3.000 sebelum Masehi, dimana manusia saat itu sudah mulai
hidup menetap dan bercocok tanam serta membentuk kelompok-kelompok masyarakat.
Sebagai masyarakat yang menetap, hidupnya memerlukan peralatan atau
perlengkapan untuk kebutuhan sehari-hari, diantaranya adalah tempat menyimpan
cairan (minuman) dan makanan yang dibuat dari gerabah (tanah liat).
Para pemuka masyarakat / pemimpin, kemudian sangat mempengaruhi
kehidupan selanjutnya, dimana orang yang dihormati dan dipercaya tersebut
dianggap dapat melindungi warganya, bahkan sampai meninggalpun tatap dapat
mempengaruhi manusia yang masih hidup. Muncullah suatu bentuk kepercayaan
penghormatan kepada nenek-moyang, sebagai penghormatan maka dibuatlah
perlambangan-perlambangan dan pemujaan-pemujaan untuk menenangkan arwah nenek
moyang mereka. Penyertaan benda kubur seperti patung kecil (figurin), manik-manik serta tempat
makanan dan minuman merupakan bentuk penghormatan leluhur sebagai bekal dalam
perjalanan ke alam baka. Peruk kecil berisi perhiasan dan periuk besar berisi
tulang-belulang adalah hasil tradisi kepercayaan masyarakat di zaman
Pra-sejarah.
Jenis-jenis Keramik
Pada prinsipnya keramik terbagi
menjadi dua, yaitu:
1.
Keramik tradisional
Keramik tradisional yaitu
keramik yang dibuat dengan menggunakan bahan alam, seperti kuarsa, kaolin, dll.
Yang termasuk keramik ini adalah: barang pecah belah (dinnerware), keperluan
rumah tangga (tile, bricks), dan untuk industri (refractory).
2.
Keramik halus
Fine ceramics (keramik
modern atau biasa disebut keramik teknik, advanced ceramic, engineering
ceramic, techical ceramic) adalah keramik yang dibuat dengan menggunakan
oksida-oksida logam atau logam, seperti: oksida logam (Al2O3, ZrO2, MgO,dll).
Penggunaannya: elemen pemanas, semikonduktor, komponen turbin, dan pada bidang
medis. (Joelianingsih, 2004)
Jenis Keramik Menurut
Kepadatan
1. Gerabah (Earthenware)
Dibuat dari semua jenis bahan
tanah liat yang plastis dan mudah dibentuk dan dibakar pada suhu maksimum
1000°C. Keramik jenis ini struktur dan teksturnya sangat rapuh, kasar dan masih
berpori. Agar supaya kedap air, gerabah kasar harus dilapisi glasir, semen atau
bahan pelapis lainnya. Gerabah termasuk keramik berkualitas rendah apabila
dibandingkan dengan keramik batu (stoneware) atau porselin. Bata, genteng,
paso, pot, anglo, kendi, gentong dan sebagainya termasuk keramik jenis gerabah.
Genteng telah banyak dibuat berglasir dengan warna yang menarik sehingga
menambah kekuatannya.

2. Keramik Batu (Stoneware)
Dibuat dari bahan lempung
plastis yang dicampur dengan bahan tahan api sehingga dapat dibakar pada suhu
tinggi (1200°-1300°C). Keramik jenis ini mempunyai struktur dan tekstur halus
dan kokoh, kuat dan berat seperti batu. Keramik jenis termasuk kualitas
golongan menengah.

3. Porselin (Porcelain)
Adalah jenis keramik bakaran
suhu tinggi yang dibuat dari bahan lempung murni yang tahan api, seperti
kaolin, alumina dan silika. Oleh karena badan porselin jenis ini berwarna putih
bahkan bisa tembus cahaya, maka sering disebut keramik putih. Pada umumnya,
porselin dipijar sampai suhu 1350°C atau 1400°C, bahkan ada yang lebih tinggi
lagi hingga mencapai 1500°C. Porselin yang tampaknya tipis dan rapuh sebenarnya
mempunyai kekuatan karena struktur dan teksturnya rapat serta keras seperti
gelas. Oleh karena keramik ini dibakar pada suhu tinggi maka dalam bodi
porselin terjadi penggelasan atau vitrifikasi. Secara teknis keramik jenis ini
mempunyai kualitas tinggi dan bagus, disamping mempunyai daya tarik tersendiri
karena keindahan dan kelembutan khas porselin. Juga bahannya sangat peka dan
cemerlang terhadap warna-warna glasir.

4. Keramik Baru (New Ceramic)
Keramik yang
secara teknis, diproses untuk keperluan teknologi tinggi seperti peralatan
mobil, listrik, konstruksi, komputer, cerobong pesawat, kristal optik, keramik
metal, keramik multi lapis, keramik multi fungsi, komposit keramik, silikon,
bioceramic, dan keramik magnit. Sifat khas dari material keramik jenis ini
disesuaikan dengan keperluan yang bersifat teknis seperti tahan benturan, tahan
gesek, tahan panas, tahan karat, tahan suhu kejut seperti isolator, bahan
pelapis dan komponen teknis lainnya.
Sifat Keramik
Sifat keramik sangat ditentukan
oleh struktur kristal, komposisi kimia dan mineral bawaannya. Oleh karena itu
sifat keramik juga tergantung pada lingkungan geologi di mana bahan diperoleh.
sifat yang umum dan mudah dilihat secara fisik pada kebanyakan jenis keramik
adalah britle atau rapuh, hal ini dapat kita lihat pada keramik jenis
tradisional seperti barang pecah belah, gelas, kendi, gerabah dan sebagainya,
coba jatuhkan piring yang terbuat dari keramik bandingkan dengan piring dari
logam, pasti keramik mudah pecah, walaupun sifat ini tidak berlaku pada jenis
keramik tertentu, terutama jenis keramik hasil sintering, dan campuran
sintering antara keramik dengan logam. sifat lainya adalah tahan suhu tinggi,
sebagai contoh keramik tradisional yang terdiri dari clay, flint dan feldfar
tahan sampai dengan suhu 1200 C, keramik engineering seperti keramik oksida mampu
tahan sampai dengan suhu 2000 C. kekuatan tekan tinggi, sifat ini merupakan
salah satu faktor yang membuat penelitian tentang keramik terus berkembang.
Secara umum sifat keramik meliputi :
1. Keras,
kuat, tetapi bersifat getas atau mudah pecah.
2. Tahan
terhadap korosi.
3. Kapasitas
panas yang baik dan konduktivitas panas yang rendah.
4. Sifat
listriknya dapat menjadi isolator, semikonduktor, konduktor bahkan
superkonduktor.
5.
Dapat bersifat magnetik dan non magnetik.
Proses pembuatan keramik
- Penyiapan bahan mentah
meliputi : penggalian bahan
mentah, penimbunan dan penggilingan.
- Penggalian bahan mentah, bahan mentah yang digunakan untuk keramik pada umumnya adalah lempung/tanah liat. Sebagian besar lempung merupakan bentuk endapan yang terletak di permukaan bumi sehingga penggaliannya dilakukan dengan cara terbuka.
- Penimbunan, bahan mentah hasil galian sebaiknya ditimbun dahulu. Selama dalam penimbunan, lempung ini diberikan air, jika perlu direndam dalam air. Hal ini perlu dilakukan agar partikel-partikel yang semula di bawah dan kurang menyerap air menjadi lebih lapuk dan menyerap air. Selain itu juga untuk melarutkan garam sulfat yang merugikan. Pada saat penimbunan ini, biasanya juga dilakukan pencampuran dengan bahan lain, misalnya pasir.
- Penggilingan, Untuk lempung yang berbentuk bongkahan yang keras, sebelum ditimbun digiling terlebih dahulu. Penggilingan dilakukan dengan menggunakan kollegrang yang dasamya berlubang-lubang untuk mendapatkan susunan besar butir yang lebih homogen. Selama digiling didalam alat ini, bahan yang sudah menjadi tepung ditambah dengan air sambil digiling, sehingga keluar dari kollegrang, bahan sudah berbentuk lempung basah. Untuk mendapatkan lempung yang lebih homogen, dilakukan penggilingan lagi di pugmill (mixer). Selesai dari pugmill, bahan diolah lagi di dalam extruder. Di dalam alat ini lempung diaduk dan ditekan, sehingga dihasilkan lempung yang benar-benar padat berbentuk kolom segi empat atau bulat.
- Pembentukan Produk Keramik
Proses pembentukan produk
keramik sangat menentukan sifat fisik suatu produk keramik. Cara pembentukan
keramik tergantung pada : tujuan pemakaian, sifat bentuknya dan bahan dasamya.
Ada empat cara pembentukan produk keramik, yaitu :
- Cara pembentukan dengan proses lempung lembek (soft mud process).
Cara ini biasanya digunakan
untuk membentuk produk keramik yang pembentukannya dikehendaki dengan lembek
sehingga dapat dilakukan pembentukan dengan tangan. Cara ini biasanya dipakai
untuk benda-benda khusus yang tidak dapat dikerjakan dengan alat lain, misalnya
untuk produk keramik halus yang cara pembentukannya dengan proses putar. Di
dalam proses ini, lempung bersifat lembek dengan kandungan air 25 ay 40 %,
dengan syarat lempung masih cukup Ikuat menahan beratnya sendiri sehingga tidak
terjadi perubahan bentuk.
- Cara pembuatan dengan proses lempung kaku (Stiff mud).
Masa yang dipakai berupa lempung
kau yang cukup berat bila dicetak/dibentuk dengan tangan.. Kadar air lempung
kaku dalam cara ini kurang lebih 15 ay 30 %. Biasanya cara ini memerlukan alat
pembentuk extruder sehingga dari alat ini dikeluarkan suatu kolom tanah yang
kaku. Kemudian kolom tanah ini dibentuk/dipotong, lalu dibentuk kembali menjadi
produk tertentu. Cara ini biasanya dipakai dalam pembuatan produk keramik berat
dan keramik banhan bangunan, misalnya genteng keramik, bata merah, bata berlubang,
pipa tanah dan bentuk produk keramik kasar lainnya.
- Cara Pembentukan dengan masa slip.
Cara ini dipakai bila lempung
yang akan dicetak disiapkan dalam bentuk bubur yang halus sekali dan berbentuk
lumpur cair. Biasanya lempung terdiri dari susunan butiran yang halus sekali.
Kandungan air dalam lempung ini 12 ay 50 %. Cara ini biasanya dilakukan dengan
membuat cetakan dari gips yang telah dibakar dan dengan cara mencetak tersebut
dapat dibuat produk yang sama. Selain itu,juga memungkinkan untuk membentuk
benda-benda yang sulit dibentuk dengan cara tangan atau mesin. Cara pembuatan
ini biasanya digunakan untuk membuat produk sanitair (doset, wastafel,
- Cara Pembentukan dengan proses kering.
Dalam cara ini dipakai
lempung/masa campuran yang berkadar air rendah 4 ay 12 %, sehingga masa tadi
lembab. Cara membentuknya biasanya dengan alat kempa (press) yang bertekanan
tinggi untuk mendapatkan produk yang mempunyai kepadatan tinggi pula. Cara ini
umumnya dipakai untuk membuat produk keramik yang mempunyai kepadatan tinggi
tetapi hasil bakarannya tidak sampai meleleh, misalnya dalam pembuatan produk
ubin keramik, bata klinker dan bata tahan api.
- Pengeringan keramik keramik
Pada saat keramik selesai
dibentuk, biasanya mengandung air antara 7-30 % Itergantung cara
pembentukkannya. Keramik ini masih dalam kondisi mentah dan basah sehingga
untuk mengurangi kadar aimya perlu dikeringkan lebih dulu. Tujuan pengeringan
adalah untuk mnguapkan air yang masih terkandung di dalam produk Imentah tadi,
sehingga pada saat dibakar tidak banyak terjadi kerusakan, tidak berubah sifat
maupun bentuknya.
Pada saat pengeringan, akan
terjadi penyusutan karena air di dalam bahan mentah akan menauao sehinaaa
butir-butir masa I emouna akan mendekat satu sama lain.Penyusutan akan terhenti
apabila air yang…menguap telah mencapai A± A’/ – 1/3 kali. Apabila
penyusutan telah selesai, makaA produk kering sudah tidak mengalami perubahan
bentuk lagi .
Pengeringan produk mentah
dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
- Pengeringan alami, yaitu suatu cars pengeringan yang memanfaatkan matahari dan suhu di sekitar benda tersebut.A Kecepatan pengeringan alami tergantung oleh : suhu udara di sekitarnya, kelembaban udara, kecepatan gerakan udara.
- Pengeringan buatan, yaitu cara pengeringan dengan menggunakan tungku pemanas sehingga radiasi panas dari tungku dimanfaatkan untuk mengeringkan keramik mentah tadi.
- Pembakaran Keramik
Pembakaran produk keramik
bertujuan untuk mendapatkan produk yang bersifat tidak berubah bentuknya,
keras, cukup kuat menahan beban, tahan air, padat dan tahan terhadap pengaruh
cuaca lainnya.
Proses yang terjadi pada keramik
selama pembakaran terdiri dari beberapa tahap, yaitu :
- Tahap penguapan air mekanis sisa pengeringan.
Jumlah air yang terkandung di
dalam bahan mentah keramik setelah pengeringan A± 3 Se 10 0/0.
Pada tahap awal pembakaran, perlu dilakukan pengeringan air bebas ini. Pada
tahap ini, pembakaran dilakukan secara perlahan-lahan dengan suhu relatif
rendah ( 40 – ‘SOAK ) untuk menghindari penguapan secara mendadak yang menyebabkan
benda retak. Kenaikan suhu pembakaran biasanya diatur antara 5 atau ‘OAK/jam.
- Tahap Penguapan air mineral.
Pada umumnya air yang terkandung
di dalam masa lempung tidak lepas pada suhu di bawah 200A°C dan umumnya lepas
pada suhu di atas 500)5.0C – 700)5.0C. Pada tahap ini,
benda keramik menjadi lebih berpori dan kurang kuat.
- Tahap Pembakaran Cepat.
Pada tahap ini dimaksudkan agar
terjadi sedikit peleburan pada dinding partikel lempung sehingga partikel satu
dengan yg lainnya melekat. Untuk beberapa produk keramik yang memerlukan
penyerapan air rendah, maka dilakukan peleburan lebih lanjut sehingga pori-pori
yang ditinggalkan air bebas maupun air mineral menjadi tertutup.
Jenis jenis tungku
pembakaran :
1. Tungku berkala (periodik).
Tungku yang digunakan untuk pembakaran secara berkala, dimana sejumlah bahan
keramik dibakar sekaligus sampai masak kemudian tungku didinginkan lagi dan
hasil bakarannya dibongkar. Demikian dilakukan berulang secara berkala. Cara
ini terlalu boros karena panas yang hilang banyak sekali, terutama panas untuk
memanasi badan tungku dan sewaktu tungku dingin kembali.
Jenis-jenis tungku berkala :
- Tungku ladang, tungku yang biasa digunakan untuk membakar bata merah, bersifat tidak permanen. Lamanya pembakaran dari mulai memanasi tungku sampai tungku dingin kembali adalah 5 Se 7 hari. Hasil bakaran pada umunya menghasilkan rendamen rendah (60%).
- Tungku berkala permanen. Tungku ini berbentuk ruangan permanen (berbentuk segi empat dan lingkaran). Pada sisi bawah tungku diberi lubang-lubang pembakaran. Hasil bakaran pada umumnya merata dan menghasilkan rendamen antara 70 Se 85 0/0.
2. Tungku Kontinu
Tungku yang bekerja secara terus
menerus (tak berhenti) kecuali produksi berhenti. Proses pembakaran berlangsung
berhari-hari, berbulan-bulan, dan hasilnya diambil setiap hari atau dalam
jangka waktu tertentu.
Jenis tungku ini ada 2, yaitu :
- Tungku kamar, dikenal dengan tungku Hofman. Berbentuk lorong yang bersekatsekat menjadi beberapa ruangan. Dengan tungku ini hasil produksi cukup besar, dimana 1 kamar menghasilkan A± 3500 bata dan lebih hemat bahan bakar. Umumnya dipakai untu produksi keramik bangunan skala besar (bata & genteng).
- Tungku terowongan. Berbentuk terowongan yang beratap. Pemabakaran dari samping, masa yang dibakar berjalan melalui lorong ini dengan kereta/lori. Jenis tungku ini termasuk modern untuk saat ini dg bahan bakar cair atau gas. Umumnya dipakai untuk produksi keramik halus, produk-produk keramik missal yang mutu dan harganya tinggi seperti produk sanitair.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
1. Jenis
keramik menurut kepadatannya yaitu gerabah,keramik batu,porselin,dan keramik
baru
2.Sifat dari keramik adalah tahan terhadap korosi,kapasitas panas yang baik dan konduktivitass panas yang rendah,dapat bersifat magnetik dan non magnetik dan lain sebagainya.
3.Keramik merupakan campuran padatan yang terdiri dari sebuah unsur logam dan nonlogam
4. Proses pembuatan keramik meliputi penyediaan bahan mentah,proses pembentukan,proses pengeringan dan proses pembakaran
3.2.Saran
Menyadari
bahwa penulisan masih jauh dari kata sempurna, kedepanya penulis akan lebih
fokus dan detail dalam menjelaskan tentang makalah dengan sumber-sumber yang
lebih banyak lagi dan tentunya dapat di pertangung jawabkan.
SUMBER
Mulyadi Utomo Agus, Drs. 2007. Wawasan dan
Tinjauan Seni Keramik. Institut Seni Indonesia Denpasar: Paramita
Smith,
F. William,1996. Principle of Material Science and Enginering.
Edisi ketiga. Universitas of central Florida: Graw-Hill.MC. hal 580-581.
Fania Zatalini K, 2013
Pengaruh Suhu Sinter Terhadap
Karakteristik Listrik Keramik Komposit CSZ-Ni Yang Dibuat Dengan Metode Tape Casting
Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu
pepek :)
BalasHapusKak di mohon bantuanya mampir ya kak karena disini juga ada kak
BalasHapushttp://www.shelly17.inube.com/
.